Thursday, August 4, 2016

Love

My first love

Nampak sebuah kekeliruan jika seseorang tidak tahu apa itu cinta, tidak merasakan apa artinya cinta, tidak menjadi salah satu actor cinta, menjadi pejuang cinta, perintis cinta dan merasakan anugerah yaitu dicintai dan mencintai seseorang dengan tulus dan sepenuh hati. Rasanya kurang lengkap kalau tidak kuceritakan kisah cintaku, dan alasanku  yang cukup sederhana menceritakan kisah cinta ini, agar orang lain juga dapat merasakan indahnya cinta. Dan dapat mengetahui cinta dari kisahku ini.
            Kisah cintaku akan kuceritakan dan kutuangkan disini agar para pujungga dan penikmat cinta lainya dapat merasakan juga apa itu cinta dan kesungguhan cinta sejati yang pernah kualami dan kurasakan.
            Cinta, adalah sesuatu yang dapat membuat orang mabuk dibuatnya. Jika cinta adalah suatu ilmu pengetahuan, cinta tanpa harus dipelajari, dan berguru pada siapapun, adalah ilmu yang datang dengan alami, datang dengan damai dan dapat dengan mudah dan cepat dipahami dan dikuasai oleh siapapun. Tidak perlu jauh jauh untuk mempelajari cinta, karna sesungguhnya diri kita sendiri adalah guru atau pakar cinta untuk diri kita sendiri. Kita mampu merasakan cinta, mengerti cinta, mencintai seseorang tanpa belajar terlebih dahulu sebelumnya. Sungguh luar biasa seseorang dapat mencintai tanpa berguru pada siapapun, karna pada waktunya nanti, pada saat kita merasakan cinta, disitulah kita mulai belajar, belajar mengerti cinta, belajar memahami apa arti cinta, dan mulai mengerti tentang cinta. Sikap tindakan serta tutur kata, serta ucapan yang sangat lembut ditambah perilaku manja akan selalu menghiasi kisah cinta seseorang. Siapa yang menyadari kalau dirinya sedang dilanda asmara, siapa yang tahu kalau dirinya sedang jatuh cinta, takan ada satupun manusia yang sadar, tahu dan mampu mengendalikan dirinya ketika ia sedang jatuh cinta. Sungguh cinta merupakan kekuatan yang sangat luar biasa, cinta mampu merubah seseorang untuk menjadi apapun yang sebelumnya belum pernah ia lakukan dan alami sebelumnya.
            Kisah cintaku kualami ketika masa – masa pubertasi, ya betul sekali mersakan cinta pertama amatlah menyenangkan dan menjadi sebuah penantian setiap pujangga asmara. Karna dari cinta pertamalah seseorang dapat belajar mengerti, memahami dan mengetahui arti cinta yang sebenarnya.
Kisah cintaku dimulai pada saat duduk dibangku kelas tiga, menengah pertama, berawal dari salah kirim pesan, yang berujung pada menyatunya sebuah ikatan janji untuk selalu bersama setia dan selamanya, sehidup semati. Itulah janji cinta pertama yang kuungkapkan pada kisah cintaku yang pertama. Sungguh siapapun itu, pasti akan merasakan betapa anugerah, keajaiban cinta pertama merupakan permulaan dari segala sesuatunya hingga pada saatnya nanti, di masa yang akan datang,  seseorang akan menjalin hubungan yang seutuhnya. Karna belajar dari cinta pertamanya.
Kusadar, seseorang yang baru menjalin hubungan agak terlihat sedikit beda dan lain, tidak seperti hubungan atau kisah pada umunya. cintaku ini begitu mudahnya datang kepada diriku, dan begitu mudahnya pula kusampaikan kepada orang yang kucintai. Awalnya kutakpernah mengetahui apa itu cinta,kugaris bawahi,  arti dan makna cinta kuketahui, sebatas pengetahuan mendasar yang tak bisa di pertanggung jawabkan. Dan ditiru.
Bermula pada pesan singkat yang sebenanrnya tidak kutunjukan kepada wanita itu, dan pada akhirnya wanita itu menjadi pacaraku. Hanya dalam waktu sehari dia menjadi kekasihku. Berawal dari kita saling sama – sama merasakan kenyamanan satu sama lain. Sungguh ironi dan tindakan yang yang tidak untuk ditiru, sehari setelah berbincang via pesan singkat, dia sudah resmi menjadi kekasihku,  ditambah lagi, keunikanya adalah aku dan dia belum saling mengetahui dan bertatap muka, sekadar tahu nama, dia kelas 9e dan dia mengetahuiku kelas 9f sebatas itu pengetahuanku kepadanya dan sebaliknya. Pada saat itu keesokan harinya ketika dipersatukanya sepasang kekasih yang sama – sama belum mengetahui satu sama lain ini bertemu, di kantin sekolah, perasaanku sungguh senang bukan kepalang, melihat wanita yang ternyata itu adalah kekasihku, Cahya Wulan Ayu Kemuning. Nama lengkap cinta pertamaku itu. Wnita Cirebon, kota kelahiranku, dan usianya tak terpaut jauh denganku hanya sekitar 20 hari saja.  Dia sosok wanita yang kutahu, wanita yang keras pendirianya, susah kuberitahu, dan susah mengalah dalam hal apapun, tapi dibalik semua itu, dia adalah wanita yang sederhana, wanita yang simple, apa adanya, dan sebenarnya wanita yang tidak menuntut apapun terhadapku, dan salah satu wanita yang paling sederhana yang kukenal. Atau mungkin karna dia berasal dari desa, sehingga menyebabkan dia seperti itu. Entahlah pikiranku belum sampai pada tahap untuk itu pada masa itu.
Pada saat itu, pertama kalinya kuberanikan diri, kutemui kekasihku di kantin sekolah, pikiranku sudah subjektif saja, sama sekali tak terfikir olehku bagaimana dia, sosoknya seperti apa dia, sungguh yang ada dalam pikiranku hanya bertemu denganya, itu saja. Pertemuan pertama itu akhirnya terjadi disaat bel istirahat pertama, sungguh bel sekolah itu akan menjadi saksi bisu yang akan selamanya mengenang kisah pertemuan antara dua sejoli ini.
Setelah kita bertemu dan berbincang panjang lebar, diwaktu istirahat yang singkat ini, sungguh tak bisa banyak bicara kepadanya, diriku yang sesungguhnya keluar disitu, pemalu dan terkesan tidak terlalu berbicara yang berlebihan, namun sesungguhnya hanya saat itu saja saya seperti itu. 15 menit terlewat begitu saja, tanpa terasa dan akhirnya terpaksa kuakhiri obrolan singkat ini, dan kujanjikan kepadanya “kutunggu kamu bel pulang nanti didepan kelas” belum ada yang mengetahui hubunganku dengannya, baru tersebar dan teman teman sekelasku tahu ketika aku menunggu didepan kelasnya pada saat bel pulang.
Tidak terlalu dekat ku menunggunya, hanya berdiri sekitar 30 meter dari kelasnya, menandakan bahwa diriku masih pemalu dan tidak berani, sifat asliku terlihat pada saat itu. Bel sudah kudengar, itu artinya janji pertama yang kubuat harus kutepati untuk bertemu denganya seusai bel pulang sekolah didepan kelasnya. Akhirnya kutepati janji pertamaku itu. Kulihat, kucari dan kuperhatikan bubaran segerombolan yang keluar dari kelas itu, namun tidak kutemui dia didalam kerumunan itu, selang beberapa menit kemudian kulihat sama sekali tidak ada gerak gerik darinya, dan akhirnya dengan penuh kepanikan dan rasa gemetar yang kurasa, kuberanikan diri untuk mendekati kelasnya dan memastikan dia, setelah kupaksakan diri mendekati ruang kelasnya, kulihat dari balik jendela, dia sedang duduk terdiam dengan temanya, seperti menunggu seseorang. Kupanggil saja, dari jendela wulan, wulan, wulan, akhirnya ia mendengar dan terlihat raut diwajahnya yang bergembira, dan ia berjalan terlihat seperti malu malu dan agak terdengar bisikannya kepada temanya,”pulang duluan ya” dengan semangat kuhampiri didepan pintu kelasnya, dan bodohnya  diriku, kata pertama yang kuucap adalah ‘lagi apa kamu?” sungguh diriku saja yang sampai saat ini masih mengingat itu, sebagai pengalaman yang tidak bisa kulupakan.
 memang benar cinta pertama itu sulit dilupakan, dan kuakui tidak dapat kulupakan masa – masa itu, masa – masa dimana kupaksakan diri untuk berinteraksi dengan lawan jenis untuk pertama kalinya secara intensif. Sungguh yang kuingat adalah masa – masanya dan tingkah laku diriku ini bersamanya pada saat itu. Seingatku, dia merupakan sesosok wanita yang memilki karakter yang tidak dimiliki wanita lain, tidak terlalu banyak menuntut apapun kepadaku dan sangat sederhana.
Akhirnya janji pertamuku kepadanya tercapai yaitu pulang bareng. Dimulailah dimana keteganganku dan ketidaktahuanku melakukan apa. Sekolahku dengan jalan raya berada cukup jauh sekitar 500 meter. Walau jauh terasa, keseharianku melewati jalanan ini tidak terlalu lama dan terasa begitu cepat, namun entah mengapa pada saat itu, perjalananku denganya begitu terasa jauh dan amat panjang. Dalam perjalanan perlahan dan kucoba untuk memegang dan meraih tanganya, namun sekali lagi ketidak beranianku menghalangiku, hingga sampai akhir perjalanan aku dan dia berjalan tanpa bergandengan tangan tidak seperti pasangan yang lain. Mungkin ini yang namanya cinta pertama, cinta yang tidak tahu harus apa dan bagaimana. Sesampainya dijalan raya, kutunggu dia hingga mendapatkan angkutan umum, berhubung rumahku dan rumahnya satu arah hanya berbeda jarak, jadi kuputuskan untuk menemaninya pulang dan sembari ngobrol – ngobrol. Diangkutan kami begitu dekat karna duduk berdampingan dan berdesakan, karna pada saat itu angkutanya sedang penuh sesak anak sekolah. Ketika akan sampai didepan rumahnya dia mencoba bilang kepadaku, mau kemana habis ini, dan dia bertanya kepadaku, kamu mau main kerumah aku?. Tanyanya kepadaku sambil tersenyum kecil. Kubilang padanya, maaf aku gabisa karna aku ada tugas untuk besok, jadi lain kali saja. Dan tiba dimana dia harus memberhentikan perjalananya bersamaku dan berpamitan denganku. Anehnya lagi ongkos angkutanya dia yang bayar, katanya biar sekalian aja aku yang bayar, ucapnya. Tanpa panjang lebar kutidak bisa menolaknya. Dan akhirnya sesampainya dirumah, sekejap dan terfikir olehku, seharian kumemikirkanya. Apakah tindakanku ini salah. Tanpa mengenali lebih dulu orang yang akan menjadi pacarku, namun diriku sudah nekat mengajaknya berpacaran. Bahkan kurasa ini suatu tindakan yang salah, sempat terbesit untuk kubilang padanya, untuk menjajaki masa pengenalan terlebih dahulu, namun percuma saja. Sudah terlanjur dan semua sudah terjadi, tanpa berfikir panjang dia sudah menjadi pacarku. Dan sedikitpun sebenarnya tidak ada rasa mencintai bahkan menyayanginya. Ini semua berjalan begitu saja tanpa kubilang kepada siapapun karna kupikir masa pacaran anak smp ya seperti itulah. Tidak ada kesungguhan yang mendasari mereka berpacaran, sebatas iseng dan gengsi dan akhirnya berpacaranlah kedua sejoli yang tidak tau menau makna sesungguhnya cinta sejati.
Benar saja dugaanku, dalam waktu seminggu yang kudapat hanya kejenuhan dan ketidak tahuan ingin berbuat apalagi.dan beginilah ketika suatu hubungan tidak dilandaskan atas nama cinta dan kasih sayang akan berakhir pada perpisahan juga, seminggu setelah hubungan berlangsung, seperti sudah tidak ada giroh lagi untuk melakukan segala sesuatunya, terlihat dari gerak geriku, rasa jenuh dan ketidakpastian menjadi boomerang tersendiri dan bersemayam didalam benak ini, ingin rasanya kuakhiri namun ada rasa yang sangat besar mengganjal semua itu, entah rasa apa yang mampu mengganjal niatanku untuk mengakhirnya.
Hubungan dalam minggu kedua, aku dan dia, selama seminggu selalu pulang bersama dan naik angkutan umu bersama, seperti itu terus, tentative dan tidak berubah dan tidak ada perubahan.
Yang kuingat momen yang benar benar kualami dan kulakukan denganya hanya sebatas meraih dan menggemgam tanganya, pada saat itu waktu pulang sekolah, kuberanikan diri untuk menggandeng tanganya sampai jalan raya, dan sensasi yang kurasakan saeperti sedang berada dalam wahana adrenalin ya belum pernah kucoba, dari jalanan yang kulewati, semua orang nampak melihat kita berdua, terlihat membicarakan dan terdengar denguman orang sekitar yang kulewati. Seketika fikirku berubah, dan kuputar otak, betapa seharian kumemikirkan ini, tak sedekat ini rasanya, belum pernah kurasakan sebelumnya berdua dengan wanita, dan kuperlakukan dengan lembut. Sejenak kuberfikir untuk dapat bertahan, dan terus menjalankan hubungan denganya, dan hubungan ini, hubungan yang kujalani sama sekali tidak ada campur tangan kawan – kawan atau teman dekatku.
Sejak saat itu selalu terfikir olehku, seorang pria terbukti kegantenganya, bila dia sudah memilki pasangan. Namun ada yang salah dari secuplik kata itu, diriku ini tak setampan yang kubayangkan dan kuharapkan, hubungan yang kujalani bukan dari cinta yang datang, dan ketulusan tidak pernah kurasakan saat menjalani hubungan ini. Suatu hari saya berfikir dan mungkin inilah yang akurat, kenapa saya bisa menjalankan hubungan ini, menjalankan hubungan seperti ini, tanpa dilandaskan dari kasih sayang dan cinta yang tulus. Namun saya mampu bertahan dengan menjalankan hubungan ini. Sungguh keegoisan saja yang kudapat, hanya ingin mendapat suatu drajat kedudukan, saya membutakan arti cinta. Menciderai suatu hubungan yang sakral, terlalu berlebihan memang terdengarnya, melihat hubungan saya denganya baru sebatas pacaran dan itupun belum terlampau lama. Namun itulah yang kurasakan. Diriku yang dahulu sudah merasakan betul pergulatan hati mengenai kekeliruan cinta yang kualami pada saat itu. Apakah ini suatu penderitaan, sebuah ikatan asmara yang kujalani sudah selayaknya tidak keteruskan, kuhentikan saja seharusnya dari awal. Agar tidak ada yang tersakiti terlalu larut lagi. Dalam sudut pandang lain, kumerasa, kalo diriku ini egois, karna sungguh tidak sepintaspun terbesit dalam benak dan pikiranku ini namanya, nama kekasihku, tak ada. Sungguh malang niang nasib yang sedang kulaami, sebegitunyakah tuhan memberikan suatu ujian terhadap mahluknya. Kisah cintaku tidak sejauh apa yang kuharapkan, dan kuinginkan, kutidak pernah mengetahui betul seberapa dalam perasaan yang dimilki olehnya, dan sama sekali tidak pernah kutanya itu padanya, keegoisanku semakin nampak saja, ketika hubungan yang sudah berjalan sekitar tiga minggu harus terpaksa kuakhiri begitu saja, berat memang kurasakan, tapi memang harus seperti inilah, pahit manis akan hasilnya sudah kutelan terlebih dahulu diawal, sebelum kumemulai hubungan ini denganya, tidak lagi kudengar deringan, panggilan sayang, puja pujian darinya ketika kuucapkan kata putus, memang sungguh kejam diriku kepadanya, tanpa sebab kumengatakan itu padanya, terkesan kumemaksa untuk mengakhiri saja hubungan ini, terlihat tak bersalah dan berdosa sedikitpun dalam diri ini, secepat kilat kumelupakan tentangnya, segalanya darinya, apa yang harus kuingat lagi, pemberian atau apapun itu tidak membekas didalam benak dan pikiranku, kumerasa kepergianya untuk segalanya. Alasanku meninggalkanya itu sungguh tidak dapat kulupakan dan mungkin banyak dipakai orang pada umumnya. “tidak mendapat izin dari orang tua’ sungguh tidaklah adil sebatas itu, kubisa mengakhiri hubungan itu, sempat ada tawaran untuk backstreet atau pacaran diam diam, tapi segala alasan apapun tidak bisa kuterima, dan memang ini sudah jalanku untuk mengakhiri hubungan yang sebab mana tidak kuamini hubungan ini.
Hubunganku denganya hanya mampu bertahan tidak selama padi berkembang, tiga minggu dirasa begitu sangat cepat dan tidak membekas bagiku, dan mungkin juga baginya. Karna tidak pernah kubertemu denganya selain dilingkungan sekolah, hanya disekolahlah kita bertemu dan memulai interaksi satu sama lain. Hubungan yang belum genap satu bulan inilah dirasa cukup untuk memulai hubungan yang baru, yang diharapkan tidak akan terulang kembali hubungan yang sebenarnya tidak kuinginkan.
Beberapa hari atau minggu kemudian, kabar bahwa saya berpacaran denganya sudah terdenagr dimana mana, sampai sampai orang yang ada disekitaran rumah mengetahuinya bahwa saya pernah memilki hubungan dengan wulan dari desa tetangga. Memang desaku denganya terlampau jauh, namun inilah kenyataan yang harus kuterima. Berakhirnya hubunganku denganya bukan berarti berakhir pula hubungan interaksiku denganya. Tak pernah sedikitpun ada rasa untuk membencinya dan untuk memusuhinya, rasa untuk menjauh darinya sama sekali tidak ada dalam jiwaku, namun tetap dalam kendali dan kontrolku juga, agar tidak terlalu dalam dan larut dalam suasana dan mencegah kembalinya lagi hubungan antara diriku dengan wulan.
Kisahku dengan wulan memang tidak selama hitungan bulan bulan masehi pada umumnya, namun luka yang membekas yang dirasakan wulan kutahu betul, melebihi dari itu. Karna kutahu dari teman – temanya. Ternyata dia menjalani hubungan denganku pada saat itu memang dilandaskan cinta, namun sekali lagi tidak pada diriku. Kurasa itu wajar karna diapun berpacaran baru pertama kalinya. Justru itu, karna saya baru merasakan apa itu hubungan, apa itu pacaran dan apakah itu wanita kesanyangan, sungguh sama sekali tidak kurasakan rasa cinta dan menyayangi.  Dan kurasakan didalam dirinya. Lebih baik kuakhiri hubungan denganya daripada kuterus membiarkan, membohongi diri sendiri dan membohongi dirinya bahwa diriku ini tidak mencintainya.
Hubunganku dengan wulan merupakan hubungan tercepat yang kujalani, dengan tanpa sebab mampu bertahan dengan hubungan palsu ini, ini sungguh bukan merupakan suatu keinginan dan harapanku, harapan siapapun juga, selayaknya manusia pada umunya yang mengharapkan cinta pertamanya akan berjalan sampai kepelaminan dan setidaknya berkesan dan memiliki suatu cerita, namun bukan pada kisah cinta pertamaku yang kualami.  Tapi kujadikan betul pelajaran terbaik, yang pernah kualami, kurasakan bahwa hubungan yang tanpa sebab ini akan menjadi bekal penting ketika saya akan menjalin suatu hubungan yang memang didasari rasa cinta dan kasih sayang. Kuberjanji pada diriku ini, tidakan terulang lagi kejadian seperti ini yang membuatku malu sendiri, terasa diriku ini seperti menyiksa diri snediri, menyiksa perasaan jiwa sendiri.
Kucoba untuk tidak larut kedalam masa awal kisah cintaku, kisahku selanjutnya membutuhkan waktu yang lama dari kisah cintaku yang pertama. Didalam jiwa ini bersemanyam secerca rasa bersalah yang sekiranya kuanggap akan kekal dan tidak bisa kulupakan.

1 comment:

  1. misi mas boleh sedikit sahaja daku mengomentari. bahwasanya memang terlihat sedikit kearoganan yang tertanam dalam benak mas .yang luput dari sudut pandangassendiri. dan memang betul itu

    ReplyDelete